Sering Dianggap Buah Kampung, Pakar Sebut Sukun Bisa Jadi Superfood Masa Depan

Jakarta - Pernah melihat atau makan buah sukun? Baru-baru ini Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Edi Santosa, menyebut sukun berpotensi menjadi 'superfood' lokal di masa depan. Kenapa?
Sukun (Artocarpus altilis) merupakan buah dari sejenis pohon. Sukun memiliki nama lain kulur, ketimbul/timbul, su'un, hingga amo.
Pohon sukun banyak ditemukan di seluruh kepulauan Nusantara, termasuk Pulau Papua. Pohon ini juga ditemukan di wilayah kepulauan di Pasifik. Buah ini kerap disebut 'buah kampung' karena tumbuh di sekitar pekarangan rumah-rumah.
Sukun juga biasa dijadikan camilan berkarbohidrat yang digoreng di beberapa daerah atau menjadi campuran untuk olahan lain. Menurut Prof Edi, sukun memiliki keunggulan karena kaya akan serat dan memiliki indeks glikemik yang lebih rendah.
"Sukun juga memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan singkong. Namun, setiap bahan pangan memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan," ujarnya dalam laman IPB, dikutip Rabu (29/7/2026).
Kenapa Sukun Bisa Jadi Superfood?
Prof Edi menjelaskan bahwa bahan pangan bisa dikatakan 'superfood' jika memiliki kandungan nutrisi tinggi. Selain itu, juga bisa dibudidayakan dengan emisi karbon yang rendah.
"Suatu pangan dapat disebut superfood jika memiliki kandungan nutrisi tinggi tanpa antinutrisi, memberikan manfaat kesehatan, serta dibudidayakan dengan cara yang rendah emisi karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim. Berdasarkan berbagai kajian dan pengamatan di lapangan, sukun memenuhi ketiga kriteria itu," ungkapnya.
Selain sumber karbohidrat, mengandung vitamin C, serta pada beberapa penelitian ditemukan mengandung vitamin A, folat, zat besi (Fe), dan seng (Zn). Kandungan ini penting dalam mendukung pemenuhan gizi dan pencegahan stunting.
Bisa Diolah Menjadi Berbagai Makanan
Selain dikonsumsi dengan direbus dan digoreng, sukun bisa diolah menjadi bahan pangan ataupun makanan lain. Salah satunya menjadi tepung.
Tepung sukun dapat diolah menjadi berbagai produk pangan modern, mulai dari roti, mi, hingga aneka makanan olahan lainnya. Sebagai bahan pangan, kadar serat dan asam lemak omega-3 pada sukun memiliki manfaat untuk kesehatan kulit hingga pelancar buang air besar.
Berbuah Sepanjang Tahun
Prof Edi menekankan bahwa potensi sukun menjadi 'superfood' didukung juga oleh adaptasi pohonnya terhadap perubahan iklim. Pohon sukun mampu tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan tinggi maupun di wilayah kering.
"Dengan perawatan yang relatif minim, pohon sukun tetap mampu berproduksi hampir sepanjang tahun," katanya.
Pohon sukun juga relatif cepat berbuah, yakni saat berusia 3-4 tahun. Setelah usia tersebut, pohon sukun bisa berbuah sepanjang tahun dengan musim panen yang umumnya berkisar pada Januari sampai Maret.
Bagi yang belum pernah melihat sukun, ciri-cirinya adalah berwarna hijau dan berkulit agak kasar. Teksturnya saat mentah akan padat cenderung keras, sedangkan saat matang akan lunak bila ditekan.






