,
Hi Aceh
Home/NASIONAL/Self-Diagnose lewat AI Bisa Bikin Panik, Dokter Ungkap Risikonya
NASIONAL

Self-Diagnose lewat AI Bisa Bikin Panik, Dokter Ungkap Risikonya

Redaksi
Redaksi·calendar_todaySeptember 27, 2026·03.36 WIB
Foto 1

Kehadiran kecerdasan buatan (AI) membuat masyarakat semakin mudah mencari informasi tentang kesehatan. Namun, kemudahan tersebut juga bisa menjadi bumerang ketika informasi yang diperoleh langsung dianggap sebagai diagnosis.

Dokter umum Prodia Children Jakarta, dr. Kristin Tjandra, mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan self-diagnose hanya berdasarkan informasi dari internet maupun AI tanpa melakukan konfirmasi kepada tenaga medis

Menurut Kristin, pencarian gejala secara berlebihan justru dapat memicu kecemasan. Keluhan ringan seperti batuk, misalnya, bisa membawa seseorang pada berbagai kemungkinan penyakit serius setelah mencari informasi secara sembarangan di internet atau AI.

AI Bukan Pengganti Dokter

AI dapat membantu seseorang memahami istilah medis atau menyiapkan pertanyaan sebelum berkonsultasi. Namun, teknologi tersebut tidak memiliki seluruh konteks yang dibutuhkan untuk menetapkan diagnosis.

Mayo Clinic juga mengingatkan bahwa AI dapat melewatkan informasi penting, gagal mengenali kondisi darurat, atau memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan meski keliru. Pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam proses diagnosis.

Karena itu, hasil pencarian dari AI sebaiknya diperlakukan sebagai informasi awal, bukan keputusan medis.

Merasa Sehat Bukan Berarti Bebas Penyakit

Kristin juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang baru memeriksakan diri ketika sudah merasakan keluhan. Padahal, sejumlah kondisi kesehatan dapat berkembang tanpa gejala yang jelas.

Ia mengatakan pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau medical check-up dapat membantu menemukan tanda-tanda gangguan kesehatan lebih awal. Hasil pemeriksaan yang menunjukkan kondisi tidak normal justru dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki pola hidup sebelum masalah berkembang lebih jauh.

Kementerian Kesehatan pun menekankan bahwa penggunaan AI dalam bidang kesehatan membutuhkan tata kelola dan etika yang kuat karena kesalahan informasi atau diagnosis dapat berdampak pada keselamatan pasien.

Siapkan Pertanyaan Sebelum ke Dokter

Alih-alih datang dengan kesimpulan sendiri, pasien disarankan mencatat keluhan, pertanyaan, serta riwayat pemeriksaan sebelumnya sebelum berkonsultasi.

Komunikasi dua arah membantu dokter memperoleh informasi yang lebih lengkap sekaligus memberi pasien ruang untuk memahami kondisi dan pilihan penanganannya.

Dengan demikian, teknologi AI tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana mencari informasi kesehatan. Namun, keputusan mengenai diagnosis dan penanganan sebaiknya tetap dilakukan bersama tenaga medis berdasarkan pemeriksaan dan kondisi masing-masing pasien.

Komentar

0