Mualem : Hilirisasi Migas Andaman Harus Berpusat di KEK Arun Lhokseumawe, Selaras Program Strategis Nasional

BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), menegaskan hilirisasi gas dari Blok Andaman harus dipusatkan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe agar selaras dengan Program Strategis Nasional (PSN). Menurutnya, pengembangan industri hilir di KEK Arun menjadi langkah strategis untuk memaksimalkan nilai tambah migas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh secara berkelanjutan.
"Hilirisasi dimulai dari KEK Arun Lhokseumawe sehingga linear dengan program strategis nasional. Lampu hijau hilirisasi sudah kita dapatkan," kata Mualem di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Pernyataan Gubernur disampaikan melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr. Nurlis Effendi. Ia menjelaskan, Presiden telah menetapkan Pengembangan KEK Arun Lhokseumawe sebagai salah satu dari 77 Program Strategis Nasional yang tercantum dalam RPJMN 2025–2029. Langkah tersebut juga sejalan dengan arah pembangunan dalam RPJMA Aceh 2025–2029.
Menurut Nurlis, pengembangan hilirisasi mendapat dukungan kuat dari potensi gas dan kondensat yang dihasilkan Lapangan Gas Tengkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy. Lapangan tersebut menjadi proyek awal yang akan menggerakkan hilirisasi migas di Aceh.
Saat ini, dari potensi produksi sekitar 300 MMSCFD gas, baru sekitar 160 MMSCFD yang telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) dengan PLN. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang besar bagi pengembangan berbagai industri berbasis gas di Aceh.
Gas alam dari Lapangan Tengkulo dapat diolah menjadi metanol dan hidrogen. Metanol dibutuhkan sebagai bahan campuran biodiesel berbasis kelapa sawit yang juga menjadi bagian dari program strategis nasional. Sementara itu, produksi sekitar 7.500 barel kondensat per hari berpotensi menghasilkan nafta, kerosin, serta gasoline yang menjadi bahan baku penting bagi industri petrokimia, cat, hingga bahan bakar minyak.
"Di sinilah peluang besar bagi tumbuhnya industri pengolahan dan pembangunan refinery yang akan memberikan dampak ekonomi lebih luas bagi Aceh," ujar Nurlis.
Mualem juga menegaskan bahwa Blok Andaman tidak boleh hanya dipandang sebagai sumber penerimaan daerah semata. Menurutnya, keberadaan cadangan migas tersebut harus menjadi pengungkit pembangunan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta tumbuhnya investasi di Aceh.
Karena itu, Pemerintah Aceh terus mematangkan berbagai perencanaan melalui rapat-rapat yang dipimpin Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Nasir Syamaun. Persiapan tersebut mencakup pembangunan ekosistem industri hilir, pengembangan SDM, hingga kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Pemerintah Aceh juga berharap Mubadala Energy dapat berkontribusi dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia Aceh agar masyarakat lokal siap mengisi kebutuhan tenaga kerja pada industri hilir migas yang akan berkembang di KEK Arun Lhokseumawe.[]












