,
Hi Aceh
Home/DAERAH/‘Bu Kulah’, Hidangan Tradisi Khas Aceh di Acara Spesial
DAERAH

‘Bu Kulah’, Hidangan Tradisi Khas Aceh di Acara Spesial

Laila Pitri
Laila Pitri·calendar_todaySeptember 24, 2026·04.18 WIB
Foto 1

Provinsi Aceh adalah salah satu wilayah di Indonesia yang kental dengan nilai dan budaya Islam. Wajar saja setiap ada peringatan hari besar Agama Islam, masyarakat Aceh antusias merayakan hari tersebut dengan berbagai rangkaian acara dan diakhiri dengan jamuan makan.

Aceh salah satu wilayah yang memiliki keunikan dalam merayakan acara istimewa, dengan menghidangkan makanan yang sering disebut ‘Bu Kulah’. Secara harfiah dalam bahasa Aceh, bu berarti nasi dan kulah berarti bungkus.

'Bu Kulah' merupakan bungkusan berbalut daun pisang muda yang telah dilayukan di atas api hingga membentuk kerucut atau piramida segitiga. Proses pembungkusan menggunakan daun pisang yang diasapi ini memberikan aroma harum yang khas pada nasi putih hangat di dalamnya, sekaligus menjaga nasi tetap pulen dan tahan lama secara alami.

Sementara isinya terdiri dari nasi putih atau nasi minyak beserta macam-macam lauk berupa telur asin, ayam, daging, kentang udang, keumamah (daging ikan kayu yang direbus lalu dikeringkan), dan lain sebagainya.

‘Bu Kulah’ nantinya disusun dan disatukan dalam satu wadah yang ditutup dengan tudung saji lalu diikat dengan kain berwarna kuning sebagai salah satu warna khas Aceh yang melambangkan kejayaan dan kemakmuran.

Keunikan & Tradisi Bu Kulah

  • Hidangan Sakral Perayaan: Bu Kulah bukan sekadar nasi bungkus biasa. Hidangan ini merupakan menu wajib dan primadona dalam acara kenduri besar, terutama pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW (Kenduri Meuloed) di gampong-gampong (desa).

  • Simbol Penghormatan: Nasi ini disajikan dalam wadah tradisi seperti talam atau ember khusus untuk menghormati para tamu istimewa yang datang dari desa tetangga.

  • Lauk Pendamping Khas: Biasanya, Bu Kulah dinikmati bersama kuah dan lauk autentik Aceh seperti sie manok (gulai ayam), sie itek (bebek), kuah beulangong, atau kemamah (ikan kayu tumis rempah).

‘Bu Kulah’ sendiri memiliki makna simbolis kebersamaan untuk mempererat tali silaturahmi antar umat. Hal ini dikarenakan memang sejatinya ‘Bu Kulah’ ini disajikan untuk dibagi dan dimakan bersama-sama sehingga orang lain juga akan merasakan lauk pauk yang ada di hidangan tersebut meskipun berasal dari tudung yang berbeda-beda.

Komentar

0