Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia: Kronologi-7 Fakta yang Jarang Diketahui

Jakarta - Sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia diawali dengan persiapan hingga pembacaan teks pada Jumat, 17 Agustus 1945. Naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik dan dibacakan oleh Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
Pembacaan proklamasi menandai kemerdekaan Indonesia yang bukan merupakan pemberian dari Jepang. Simak sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia berikut dengan fakta-fakta menarik dibaliknya.
Bagaimana Kronologi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?
Sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia meliputi beberapa peristiwa yang terjadi berurutan. Momen ini meliputi persiapan kemerdekaan RI, peristiwa Rengasdengklok, penyusunan naskah, hingga pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
1. Persiapan Kemerdekaan RI
Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk pada 29 April 1945 dan diketuai oleh dr Radjiman Wedyodiningrat serta dua wakilnya yaitu Itibangase Yosio dan R.P. Soeroso. BPUPKI didirikan setelah Jepang terdesak dalam Perang Dunia II, sebagaimana disampaikan oleh Perdana Menteri Jepang, Kuniaki Koiso.
Sidang pertama BPUPKI pada 28 Mei-1 Juni membahas mengenai dasar negara yang kemudian menghasilkan rumusan Pancasila yang dibacakan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945. Setelahnya, dibentuk panitia kecil untuk merumuskan batang tubuh UUD yang dikenal sebagai Piagam Jakarta.
Sidang kedua BPUPKI pada 10-17 Juli membahas mengenai bentuk negara, wilayah negara, kewarganegaraan, rancangan UUD, ekonomi dan keuangan, pembelaan, pendidikan dan pengajaran.
BPUPKI lalu dibubarkan dan Dokuritsu Junbi Iinkai atau Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk pada 7 Agustus 1945 yang diketuai oleh Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai wakilnya.
Pada 9 Agustus, bom atom dijatuhkan di Nagasaki yang menandai kekalahan telak Jepang atas Sekutu. Hari berikutnya Soekarno, Hatta, dan Radjiman menemui Panglima Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara, Jenderal Terauchi untuk menuntut kemerdekaan yang dijanjikan oleh Jepang kepada seluruh wilayah bekas jajahan Belanda.
Pada 14 Agustus Soekarno, Hatta, dan Radjiman kembali ke tanah air. Soekarno mengatakan, "Apabila dulu aku beritahu bahwa Indonesia akan merdeka sesudah jagung berbuah, sekarang dapat dikatakan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbuah."
2. Peristiwa Rengasdengklok
Soekarno-Hatta kemudian diculik oleh para tokoh pemuda kemudian dibawa ke Rengasdengklok pada 16 Agustus untuk didesak mengumumkan kemerdekaan secepatnya.
Keduanya berpendapat kemerdekaan Indonesia akan diserahkan kepada PPKI yang sebelumnya sudah dibentuk. Namun Syahrir yang merupakan bagian dari golongan muda menolak kemerdekaan Indonesia dikenal sebagai pemberian Jepang.
Baik Soekarno maupun Hatta tidak ingin tergesa karena militer Jepang masih menduduki Indonesia, sehingga ditakuti akan terjadi pertumpahan darah. Indonesia sendiri dijanjikan kemerdekaan oleh Jepang pada 24 Agustus 1945 melalui PPKI.
Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh golongan pemuda yang bertujuan untuk menjauhkan keduanya dari pengaruh Jepang. Mereka dibawa ke rumah seorang keturunan Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong dan diyakinkan oleh golongan pemuda bahwa Jepang telah menyerah terhadap Sekutu dan rakyat siap melawan Jepang.
Achmad Soebardjo kemudian menjemput Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta dan berhasil meyakinkan golongan muda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan.
3. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Pada 16 Agustus 1945 malam, Soekarno-Hatta menyiapkan proklamasi di kediaman Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No 1 bersama Achmad Soebardjo, Sukarni, BM Diah, Sudiro, dan Sayuti Melik.
Hal ini dilakukan setelah rombongan menerima kabar bahwa Pemerintah Jepang memiliki kesepakatan dengan Sekutu untuk mempertahankan status quo di wilayah jajahan Jepang, termasuk Indonesia.
Pada 17 Agustus 1945 dini hari, naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk kemudian diketik dengan beberapa perubahan yang disepakati. Lokasi pembacaan proklamasi pun ditentukan di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta pukul 10.00 WIB.
Pada pukul 10.00 WIB, masyarakat berkumpul mendengarkan pidato Soekarno yang diikuti dengan pembacaan teks proklamasi. Dengan pengibaran bendera merah-putih yang tiangnya bambu dan menyanyikan Indonesia Raya bersama-sama.
7 Fakta di Balik Proklamasi Kemerdekaan RI
1. Tiga Kata Diubah di Naskah Hasil Ketik
Sayuti Melik sebagai sosok yang mengetik naskah proklamasi yang telah ditulis oleh Soekarno, melakukan beberapa perubahan yang disetujui bersama. Kata pertama yang diubah adalah tempoh menjadi tempo. Kata kedua yang diubah adalah wakil² bangsa Indonesia menjadi Atas nama bangsa Indonesia. Kata ketiga yang diubah adalah penulisan hari, bulan, dan tahun yang semula 17-8-'05 menjadi hari 17 boelan 8 tahoen 05.
2. Naskah Diketik Pakai Mesin Berhuruf Kanji
Naskah diketik menggunakan mesin ketik milik Angkatan Laut Jerman yang berhuruf kanji Jepang. Naskah ini kemudian ditandatangani oleh Soekarno-Hatta.
3. Draf Teks Proklamasi Nyaris Hilang
Usai diketik Sayuti Melik, wartawan BM Diah menemukan draf naskah proklamasi di tempat sampah dan disimpan selama 46 tahun, sebelum diserahkan kepada pemerintah pada 29 Mei 1992.
4. Bendera Merah Putih Proklamasi Tidak Lagi Dikibarkan Sejak 1968
Bendera merah-putih yang dijahit oleh Fatmawati, tidak lagi digunakan setiap tahun untuk merayakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini dilakukan untuk melindungi agar Bendera Pusaka tidak rusak.
5. Foto Bersejarah
Hanya tersisa tiga lembar plat foto yang dimiliki oleh Frans Mendur, yang kemudian menjadi tiga foto bersejarah; Soekarno membacakan teks proklamasi, pengibaran bendera merah-putih, dan sebagian masyarakat yang hadir.
6. Tiang Bendera dari Bambu
Di kediaman Soekarno terdapat dua tiang besi yang tidak digunakan, namun karena kondisi yang menegangkan saat itu S. Suhud mengambil bambu di belakang rumah dan dibersihkan untuk kemudian di tancapkan di depan teras rumah.
7. Upacara Proklamasi Berlangsung Selama Satu Jam
Upacara proklamasi kemerdekaan hanya berlangsung selama satu jam, dengan sederhana, tanpa protokol, namun dengan khidmat penuh dari setiap yang mendengarkan.
Siapa Saja Tokoh dalam Proklamasi dan Apa Perannya?
1. Soekarno
Ketua PPKI
bersama Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo menyusun teks Proklamasi
menandatangani teks Proklamasi atas nama bangsa Indonesia
membacakan Proklamasi pada 17 Agustus 1945
2. Mohammad Hatta
Wakil Ketua PPKI
Bersama Soekarno dan Achmad Soebardjo menyusun teks Proklamasi;]
Menandatangani teks Proklamasi bersama Soekarno.
3. Achmad Soebardjo
Tokoh golongan tua yang berunding dengan golongan muda;
menjamin bahwa Proklamasi akan dilaksanakan di Jakarta;
menjemput Soekarno-Hatta dari Rengasdengklok;
ikut merumuskan teks Proklamasi.
4. Sukarni
Tokoh golongan muda yang mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan
ikut dalam proses perumusan teks
mengusulkan agar teks ditandatangani Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia
5. Wikana
Tokoh golongan muda yang mendesak Soekarno agar Proklamasi dilakukan pada 16 Agustus 1945
Berunding dengan Achmad Soebardjo terkait kepulangan Soekarno-Hatta dari Rengasdengklok
6. Sayuti Melik
Mengetik naskah Proklamasi tulisan tangan Soekarno dan melakukan beberapa perubahan yang telah disepakati sebelum naskah final digunakan.
7. Laksamana TadashiMaeda
Menyediakan kediamannya di Jalan Imam Bonjol No. 1 sebagai tempat perumus an teks Proklamasi
8. BM Diah
Hadir dalam proses penyusunan Proklamasi
Menemukan dan menyimpan draf asli teks Proklamasi yang telah dibuang setelah diketik oleh Sayuti Melik.
9. Fatmawati
Menjahit dan menyiapkan bendera Merah Putih yang dikibarkan pada upacara Proklamasi 17 Agustus 1945.
10. LatiefHendraningrat
Bersama Suhud bertugas mengibarkan bendera Merah Putih dalam upacara Proklamasi.
11. Dr RadjimanWedyodiningrat
Ketua BPUPKI;
Berperan dalam tahap awal persiapan kemerdekaan dan turut bersama Soekarno-Hatta bertemu Jenderal Terauchi di Dalat.
12. FransMendur & Alex Mendur
Mendokumentasikan momen Proklamasi melalui foto. Negatif foto kemudian disembunyikan untuk menghindari penyitaan tentara Jepang.






