,
Hi Aceh
Home/SEJARAH/Sejarah Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Jepang Dipimpin oleh Ulama
SEJARAH

Sejarah Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Jepang Dipimpin oleh Ulama

Redaksi
Redaksi·calendar_todayAugust 21, 2026·04.19 WIB
Foto 1

Kedatangan Jepang ke Aceh pada tahun 1942 awalnya disambut dengan harapan besar oleh rakyat Aceh. Pasalnya, Jepang menjanjikan kemerdekaan dan pembebasan dari penjajahan Belanda yang telah berlangsung puluhan tahun. Namun harapan tersebut pupus setelah Jepang menunjukkan wajah aslinya sebagai penjajah yang lebih kejam. Kebijakan eksploitatif seperti kerja paksa atau romusha, penyitaan hasil bumi secara paksa, hingga penghinaan terhadap nilai-nilai Islam memicu kemarahan rakyat Aceh. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pun semakin memburuk di bawah pendudukan Jepang.

Latar Belakang Perlawanan Rakyat Aceh terhadap Pendudukan Jepang

Jepang Menggantikan Belanda

Setelah Jepang menduduki Aceh pada masa Perang Dunia II, berbagai kebijakan pemerintahan militer Jepang memicu munculnya perlawanan rakyat di berbagai daerah, terutama Perang Bayu dan Perang Pandrah.

Penyebab Perlawanan

Menurut artikel Perjuangan Perlawanan Rakyat Aceh Terhadap Pendudukan Jepang (1942–1945): Studi Kasus Perang Bayu dan Perang Pandrah oleh Almas Hammam Firdaus dkk., perlawanan rakyat Aceh dipicu oleh tindakan sewenang-wenang pemerintah militer Jepang, seperti perampasan harta benda dan penerapan kerja paksa yang menimbulkan penderitaan di kalangan masyarakat.

Faktor Agama

Faktor agama menjadi salah satu penyebab utama perlawanan. Rakyat Aceh menolak berbagai tindakan tentara Jepang yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, termasuk kewajiban melakukan seikeirei kepada Kaisar Jepang. Tengku Abdul Djalil kemudian menyerukan jihad melawan penjajah Jepang.

Kondisi Ekonomi

Memburuknya kondisi ekonomi akibat perampasan harta benda dan kerja paksa, ditambah pelanggaran terhadap nilai-nilai agama, mendorong sebagian masyarakat Aceh melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan militer Jepang.

Tokoh Pemimpin dan Peristiwa Perlawanan Besar di Aceh

Pemimpin Perlawanan

Dalam Perang Bayu, perlawanan dipimpin oleh Tengku Abdul Djalil, seorang ulama sekaligus pimpinan Dayah Cot Plieng yang menggerakkan para pengikutnya untuk melawan pemerintahan militer Jepang. Selain Tengku Abdul Djalil dalam Perang Bayu, Perang Pandrah dipimpin oleh Keuchik Usman, Keuchik Johan, Tengku Ibrahim Peudada, Tengku Jacob, Tengku Akop Pang, dan Tengku Nyak Isa.

Perang Bayu

Perang Bayu merupakan pemberontakan rakyat Aceh yang pecah pada 10 November 1942 di bawah pimpinan Tengku Abdul Djalil. Pertempuran berlangsung selama tiga hari dan berakhir dengan gugurnya Tengku Abdul Djalil.

Perang Pandrah

Perang Pandrah diawali dengan persiapan melalui musyawarah pada 24 April 1945. Penyerbuan terhadap tangsi Jepang dilakukan pada 2 Mei 1945 dan dilanjutkan dengan serangan besar pada 5 Mei 1945.

Karakteristik Perlawanan

Perlawanan yang dipimpin Tengku Abdul Djalil dilandasi motivasi agama. Bersama para pengikutnya, ia mempersiapkan perjuangan dengan semangat jihad fi sabilillah untuk melawan pemerintahan militer Jepang.

Komentar

0