,
Hi Aceh
Home/NASIONAL/ESDM Prioritaskan Tebu, Singkong Mukibat, dan Jagung sebagai Bahan Baku Bioetanol
NASIONAL

ESDM Prioritaskan Tebu, Singkong Mukibat, dan Jagung sebagai Bahan Baku Bioetanol

Redaksi
Redaksi·calendar_todayAugust 5, 2026·12.22 WIB
Foto 1

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan memfokuskan tebu, singkong mukibat, dan jagung sebagai sumber bahan baku bioetanol.

Adapun pemerintah menargetkan penerapan mandatori E20 pada 2028, yakni pencampuran etanol sebesar 20 persen pada bensin.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, pemerintah tengah menyusun strategi agar pasokan bahan baku bioetanol mencukupi ketika program E20 mulai diterapkan.

Menurut dia, pemerintah akan lebih dulu mengembangkan tiga komoditas. Salah satunya singkong mukibat yang kurang diminati untuk dikonsumsi langsung, sehingga diharapkan tidak mengganggu ketahanan pangan.

"Nah bahan bakunya kita address tiga dulu. Ada ketela yang besar-besar, varietas mukibat. Karena lebih pahit, tidak berbenturan sama pangan dan patinya juga lumayan besar," ujar Eniya di sela-sela Pekan Riset Sawit Indonesia, Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (20/7/2026).

Selain singkong, pemerintah juga akan memanfaatkan jagung dan tebu sebagai sumber bioetanol.

Eniya menjelaskan, bioetanol dari jagung akan berasal dari bagian bonggolnya. Sementara itu, peningkatan produksi gula dari tebu juga akan meningkatkan produksi bioetanol karena memanfaatkan hasil samping berupa molases.

"Lalu jagung, itu bonggolnya ya. Jadi itu sama kayak tebu. Semakin banyak kita produksi gula maka semakin banyak kita dapatkan bioetanol. Nah semakin banyak kita produksi jagung semakin banyak juga kita dapatkan bioetanol," ucap dia.

Meski demikian, ia mengakui tantangan utama pengembangan bioetanol saat ini bukan terletak pada pembangunan pabrik, melainkan pada ketersediaan bahan baku.

Menurut Eniya, pembangunan pabrik bioetanol hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kemampuan menyediakan bahan baku secara berkelanjutan.

"Nah tinggal bahan bakunya. Membangun pabrik itu 1,5 tahun bisa, tetapi bahan bakunya," ucapnya. Maka untuk mendukung target penerapan bioetanol, pemerintah tengah merevisi Peraturan Presiden Nomor 40 yang mengatur swasembada gula dan penyediaan bioetanol.

Revisi tersebut akan mengakomodasi penambahan kapasitas fasilitas pencampuran (blending) bioetanol.

"Nanti kami komunikasi dengan Kemenko Perekonomian karena prakarsa revisi perpres di sana. Jadi kita sesuaikan dengan arahan Pak Presiden untuk menambah itu, karena kemarin di perencanaannya Pertamina masih sedikit sekali," kata dia.

Selain memastikan pasokan bahan baku, pemerintah juga tengah menyusun formula harga bioetanol yang berasal dari jagung dan singkong. Saat ini, formula harga yang telah ditetapkan baru berlaku untuk bioetanol berbahan baku molases atau tetes tebu.

"PR yang harus segerakan adalah masalah harga. Sekarang harga yang sudah kita tentukan itu adalah konsep formula bioetanol yang dari molases, yang dari tebu. Kalau yang dari jagung dan ketela itu juga. Nah ini saya dalam 6 bulan ini insyaAllah bisa selesai," pungkas Eniya.

Komentar

0