,
Hi Aceh
Home/SEJARAH/Orang RI Ini Dulu Diremehkan Belanda, Kini Karyanya Diakui Dunia
SEJARAH

Orang RI Ini Dulu Diremehkan Belanda, Kini Karyanya Diakui Dunia

Redaksi
Redaksi·calendar_todayOctober 24, 2026·01.56 WIB
Foto 1

Tepat hari ini 117 tahun lalu, Sedyatmo lahir. Dia adalah insinyur Indonesia yang kelak dikenal dunia berkat penemuan konstruksi fondasi "cakar ayam". Namun, sebelum namanya dikenal luas, Sedyatmo dulu diremehkan habis-habisan oleh insinyur Belanda yang menilai rancangannya menyimpang dari standar teknik saat itu.

Kisah tersebut bermula pada 1936, dua tahun setelah Sedyatmo meraih gelar insinyur. Saat itu, dia mendapat kepercayaan dari Mangkunegoro VII untuk membangun jembatan air di Desa Wiroko, Wonogiri. Jembatan tersebut dibuat untuk menyalurkan air dari Sungai Wiroko agar dapat dimanfaatkan para petani di wilayah sekitar.

Proyek itu bukan pekerjaan mudah. Lokasi pembangunan masih terpencil, akses jalannya belum memadai, dan kawasan sekitarnya dipenuhi ular berbisa. Meski begitu, Sedyatmo tetap mengerjakan proyek tersebut dengan mengutamakan efisiensi bahan, biaya, dan waktu tanpa mengorbankan kekuatan bangunan.

Dalam proses pembangunan, Sedyatmo juga berhadapan dengan perbedaan pandangan mengenai rancangan jembatan. Kalangan insinyur Belanda menilai desainnya menyimpang karena menggunakan ketebalan beton yang lebih tipis dibanding standar teknik yang berlaku saat itu.

Namun, Sedyatmo tetap yakin dengan perhitungannya. Dia menilai para insinyur Belanda terlalu terpaku pada teori dalam buku.

"Kekuatan jembatan tersebut tidak kalah dengan jembatan yang menggunakan rumus-rumus konvensional," ungkap pria kelahiran 1909 itu, dalam biografinya berjudul Prof. Dr. Ir. Sedyatmo: Intuisi Mencetus Daya Cipta (2019).

Di tengah proses pembangunan tersebut, Sedyatmo juga menjalankan tradisi masyarakat setempat. Sebelum pekerjaan dimulai, dia memotong seekor kerbau dan menanam kepalanya di sekitar lokasi proyek.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa saat itu, kepala kerbau yang ditanam merupakan persembahan kepada roh-roh penjaga tempat agar pembangunan berjalan lancar dan para pekerja mendapat perlindungan.

Namun, dalam autobiografinya, Sedyatmo menegaskan bahwa dirinya tidak menjalankan tradisi tersebut karena mempercayai unsur mistisnya. Dia melakukannya demi menghormati masyarakat yang terlibat dalam proyek tersebut.

"Sedyatmo melaksanakan adat tersebut, tapi tidak dengan kepercayaan demikian. Ia melaksanakannya semata-mata untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat dan orang-orang yang membantunya," ungkapnya dikutip dari Prof. Dr. Ir. Sedyatmo: Intuisi Mencetus Daya Cipta (2019).

Setelah penyembelihan, kenang Sedyatmo, daging kerbau dimakan bersama oleh warga dan para pekerja sebagai bentuk kebersamaan. Sementara itu, kepala kerbau dikuburkan karena sebagian besar terdiri atas tulang dan sulit dimanfaatkan.

Pada 1937, proyek jembatan air tersebut akhirnya selesai. Jembatan Air Wiroko berdiri kokoh, membuktikan bahwa perhitungan Sedyatmo tidak keliru meski sebelumnya mendapat penolakan dari kalangan insinyur Belanda.

Keberhasilan itu menjadi titik balik dalam kariernya. Kemampuan Sedyatmo menarik perhatian salah satu pejabat tinggi di Departemen Pekerjaan Umum (PU) Hindia Belanda, Prof. Ir. Bijlaard. Sang profesor meminta insinyur jembatan itu bergabung dengan Departemen PU. Ini menjadikan Sedyatmo sebagai orang Jawa pertama yang bekerja di departemen tersebut.

Setelahnya, prestasi Sedyatmo terus bertambah. Tahun 1953, mengutip koran De locomotief (11 Agustus 1953), dia diangkat menjadi Profesor atau Guru Besar ITB bidang Tenaga Air. Lalu puncaknya pada 1961 saat melahirkan inovasi konstruksi fondasi "cakar ayam".

Mengutip koran Berita Yudha (7 Februari 1985), cakar ayam adalah fondasi struktur plat beton bertulang yang dipakai di tanah tidak stabil. Kelak, temuan Sedyatmo mendapat paten internasional dari belasan negara. Atas dasar ini, namanya dianggap sebagai salah satu insinyur paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Komentar

0