Di Balik Ledakan AI dan Data Center, Ada Krisis Air yang Tersembunyi

Berapa sebenarnya air yang dihabiskan AI (Artificial Intelligence) untuk beroperasi? Laporan terbaru dari Congressional Research Service (CRS) Amerika Serikat (AS) mengungkap bahwa data resmi soal konsumsi air data center AI masih jauh dari lengkap dan konsisten.
Menurut CRS, pusat data di AS menggunakan sekitar 17 miliar galon air pada 2023, meningkat 3 kali lipat dibanding satu dekade sebelumnya.
Lonjakan ini dipicu ledakan permintaan AI generatif sejak ChatGPT diluncurkan akhir 2022, yang memicu pembangunan besar-besaran fasilitas baru berisi perangkat keras AI haus daya, seperti dilansir dari The Register, Jumat (11/9/2026).
Namun yang lebih mengejutkan, pemerintah federal AS ternyata tidak pernah melakukan penilaian sistematis terhadap seluruh penggunaan air di industri ini. Sebagian data hanya dikumpulkan oleh badan tingkat negara bagian, membuat gambaran nasional menjadi terpecah-pecah dan sulit diverifikasi secara menyeluruh oleh publik maupun pengawas independen.
Masalah transparansi ini diperparah oleh perjanjian layanan air antara pemerintah kota dan operator pusat data, yang menurut CRS kadang memuat klausul pembatasan pengungkapan data konsumsi air ke publik. Akibatnya, angka resmi yang beredar sering kali hanya potongan kecil dari kondisi sebenarnya di lapangan.
Knowable Magazine, dalam laporan terpisah dikutip Jumat (11/9/2026) mencoba memberi konteks yang lebih membumi soal skala masalah ini. Klaim viral bahwa satu percakapan chatbot menghabiskan 500 mililiter air kini dianggap usang, karena efisiensi model AI terus meningkat pesat.
Google bahkan mengklaim satu kueri (pertanyaan/permintaan) Gemini kini hanya memakai sekitar lima tetes air saja. Meski angka per kueri terlihat kecil, jumlahnya bisa menumpuk cepat mengingat skala penggunanya yang masif. Peneliti dari Cornell University, Fengqi You memperkirakan pada 2030, pusat data AS bisa mengonsumsi 731 hingga 1.125 miliar liter air per tahun yang setara dengan pasokan air minum tahunan seluruh warga New York City.
Kendati demikian, para ahli menegaskan konsumsi air pusat data masih kalah jauh dibanding sektor pertanian dan sebagian industri manufaktur.
Dampaknya pun tidak merata, di wilayah kaya air mungkin tak jadi soal besar, tapi di daerah kering seperti Arizona dan New Mexico, tambahan beban ini berpotensi memperparah tekanan air lokal yang sudah ada.
Persoalan sebenarnya bukan cuma soal berapa banyak air yang dipakai, tapi di mana pusat data itu dibangun dan dari mana airnya diambil. Jika pusat data dibangun di daerah yang kaya air dan energi terbarukan, bukan di wilayah rawan kekeringan, jejak air AI di masa depan bisa dipangkas hingga 86%.
Syaratnya, data yang lebih transparan harus tersedia dulu agar kebijakan seperti ini bisa benar-benar diterapkan. Semakin pintar sebuah model teknologi, semakin besar pula daya komputasi yang dibutuhkan untuk melatih dan menjalankannya, dan itu berarti lebih banyak listrik serta air untuk mendinginkan mesin-mesinnya. Jika tidak ada langkah serius untuk mengatasinya, kecanggihan AI bisa datang dengan kondisi bumi dan lingkungan yang kian terancam.












