,
Hi Aceh
Home/GAYA HIDUP/Apa itu Terminal Lucidity, Pasien Kritis Tiba-tiba Sembuh Sebelum Meninggal
GAYA HIDUP

Apa itu Terminal Lucidity, Pasien Kritis Tiba-tiba Sembuh Sebelum Meninggal

Laila Pitri
Laila Pitri·calendar_todaySeptember 2, 2026·04.59 WIB
Foto 1

Ada fenomena yang kerap terjadi terhadap pasien yang dalam kondisi kritis. Yaitu pasien tersebut tiba-tiba sembuh namun tak lama meninggal dunia.

Seorang perawat layanan hospice di California, Amerika Serikat, Julie McFadden menceritakan fenomena unik yang pernah ia alami. McFadden menjelaskan, fenomena tersebut dikenal dengan istilah terminal lucidity, yaitu kondisi di mana pasien yang sakit parah tiba-tiba mengalami semacam ledakan energi, kejernihan mental, dan kewaspadaan secara tiba-tiba.

Definisi dan Karakteristik Terminal Lucidity

Terminal lucidity, juga dikenal sebagai "moment of clarity" atau "sudden clarity before death", merujuk pada kondisi di mana seseorang yang mengalami demensia, penyakit Alzheimer, atau kondisi kognitif lainnya, tiba-tiba menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kecerdasan, kesadaran, dan interaksi sosial. Ini bisa terjadi hanya beberapa jam atau bahkan beberapa hari sebelum kematian mereka.

Karakteristik dari terminal lucidity meliputi kemampuan untuk mengingat kenangan yang lama terlupakan, berkomunikasi secara efektif, mengenali orang-orang terdekat, dan bahkan melakukan tindakan-tindakan yang menunjukkan pemahaman yang dalam tentang situasi mereka.

Hal ini membuat pasien tampak memiliki peningkatan daya ingat dan fungsi kognitif, sehingga tiba-tiba dapat bangun dari tempat tidurnya dan merasa sehat bahkan suasana hati juga turut membaik.

Namun kondisi itu tak berlangsung lama, dalam beberapa hari atau bahkan beberapa jam kemudian, pasien tersebut akhirnya meninggal. Perubahan yang nampak menggembirakan itu bukan berarti pasien benar-benar sembuh.

Teori dan Penjelasan Ilmiah

Meskipun belum ada penjelasan ilmiah yang pasti untuk terminal lucidity, beberapa teori telah diajukan untuk mencoba memahami fenomena ini. Salah satu teori menyatakan bahwa mungkin ada peningkatan sementara dalam aktivitas otak sebelum kematian, yang mungkin menyebabkan pemulihan sementara dari gangguan kognitif.

Teori lainnya mencurigai bahwa kondisi fisik yang mendekati kematian, seperti penurunan tekanan darah atau perubahan kimia otak, dapat mempengaruhi fungsi otak secara dramatis, menyebabkan keadaan yang tampaknya menghilangnya gejala penyakit kognitif.

Dampak Emosional dan Spiritual

Terminal lucidity sering kali memiliki dampak yang kuat secara emosional bagi keluarga dan orang-orang yang merawat individu yang mengalami gangguan kognitif. Momen kejernihan ini bisa menjadi kesempatan untuk berhubungan kembali dengan orang yang terkasih dan merasakan kedekatan yang intens sebelum berpisah.

Secara spiritual, fenomena ini sering dianggap sebagai momen yang suci atau transenden, di mana seseorang mungkin mempersiapkan diri untuk perjalanan terakhir mereka atau menyelesaikan urusan yang belum terselesaikan sebelum meninggalkan dunia ini.

Meskipun terminal lucidity tetap menjadi misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan, fenomena ini menunjukkan kompleksitas dan keajaiban otak manusia dalam menghadapi kematian.

"Bagian yang sulit adalah menikmatinya saat hal itu terjadi dan mengetahui bahwa mereka kemungkinan akan meninggal tak lama setelahnya," kata McFadden dilansir detikHealth dari Daily Mail.

McFadden menjelaskan, terminal lucidity merupakan fenomena umum yang terjadi pada orang-orang yang akan meninggal. Selama ia berpraktik di layanan hospice--perawatan khusus untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami penyakit serius atau stadium akhir, ia sering mendapati hal seperti itu.

Ia menyebut pasien biasanya akan nampak seperti tidak sakit sama sekali dan bahkan meminta makanan favorit mereka. Namun hal ini hanya terjadi dalam waktu singkat. Diperkirakan satu dari tiga orang yang dalam kondisi kritis atau sekarat akan mengalami terminal lucidity sebelum akhirnya meninggal.

Hingga saat ini, para ahli tidak mengetahui secara pasti pemicu kondisi terminal lucidity tersebut. Namun, dari penelitian terkini didapati bahwa orang yang sekarat mungkin mengalami lonjakan aktivitas otak atau neurotransmitter terkait dengan stres, yang memberi mereka aliran energi terakhir.

Dalam penelitian yang diterbitkan tahun lalu tersebut dikatakan, otak yang sekarat mengalami kekurangan oksigen dan mungkin dapat menghasilkan peningkatan aktivitas gelombang gamma. Gelombang gamma sendiri merupakan gelombang otak tercepat yang terjadi saat pasien sangat waspada dan secara aktif memproses informasi sensorik.

Menurut para ahli, otak akan melepaskan neurotransmitter seperti serotonin dalam jumlah besar tepat sebelum kematian pasien yang berdampak pada meningkatkan suasana hati.

"Tidak ada yang terbukti secara ilmiah atau dipelajari untuk memberi tahu kita secara pasti mengapa hal itu terjadi. Cobalah untuk tetap hadir di saat orang yang Anda kasihi mengalami hari yang sangat baik. Anggaplah itu sebagai berkat, hampir seperti hadiah yang diberikan orang yang Anda kasihi kepada Anda," tandas McFadden.

Komentar

0